Hujan di Bulan Februari
Bab 5
Musim yang Terlambat
Hujan turun deras malam itu, mengetuk kaca jendela kafe dengan ritme yang tidak beraturan. Nara menatap cangkir kopinya yang sudah setengah dingin, jarinya memainkan gagang cangkir tanpa tujuan.
Ia tidak seharusnya ada di sini.
Kafe ini — dengan lampu temaram berwarna kuning dan aroma kayu yang bercampur dengan biji kopi — adalah tempat yang sama tempat ia pertama kali bertemu Rian, lima tahun lalu. Meja pojok dekat jendela. Tempat yang sama. Bahkan kursi yang sama, kalau ia tidak salah ingat.
"Nara?"
Suara itu membekukannya.
Ia kenal suara itu. Terlalu kenal. Suara yang sudah ia coba lupakan selama lima tahun terakhir, yang masih saja muncul di mimpi-mimpinya di malam-malam yang sunyi.
Perlahan, Nara mengangkat kepalanya.
Rian berdiri di sana, dengan jaket hujan yang masih basah dan rambut yang sedikit acak-acakan karena hujan. Ekspresinya mencerminkan apa yang Nara rasakan — keterkejutan yang bercampur dengan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang sudah lama terkubur.
"Kamu—" Nara memulai, tapi suaranya tidak keluar dengan semestinya. "Boleh aku duduk?"
Pertanyaan yang sederhana. Tapi bagi Nara, pertanyaan itu terasa seperti pertanyaan yang paling berat yang pernah ia dengar.
Ia mengangguk, meski seluruh akal sehatnya berteriak untuk mengatakan tidak.
Rian duduk di kursi seberangnya, meletakkan tas ranselnya di lantai. Ia menatap Nara sejenak, lalu menatap cangkir kopi di tangan Nara, lalu kembali ke wajah Nara.
"Sudah lama," katanya akhirnya. "Lima tahun,"jawab Nara. Lebih tajam dari yang ia niatkan. Rian mengangguk pelan."Lima tahun."Ia mengulang angka itu seperti sedang menimbang beratnya. "Kamu baik-baik saja?" "Baik."Jawaban refleks. Jawaban yang sudah ia latih untuk diberikan kepada siapa saja yang bertanya. "Kamu sendiri?" "Baru pulang dari Jogja. Ada proyek di sana selama tiga tahun."Ia berhenti sejenak. "Aku tidak tahu kamu masih di kota ini." Nara menatapnya."Kenapa kamu perlu tahu?"
Pertanyaan itu menggantung di udara di antara mereka, berat dan penuh dengan hal-hal yang tidak terucapkan.
Rian menghela napas panjang. Di luar, hujan semakin deras, mengaburkan pemandangan di balik kaca jendela menjadi lukisan abstrak berwarna kuning dan hitam.
"Nara," katanya dengan nada yang berbeda — lebih lembut, lebih berhati-hati. "Ada hal-hal yang ingin aku katakan sejak dulu. Hal-hal yang... aku tidak pernah sempat mengatakan." "Rian—" "Tolong biarkan aku selesai."
Nara menutup mulutnya.
Rian menatap tangannya di atas meja, jari-jarinya terjalin satu sama lain. "Ketika aku pergi lima tahun lalu, aku pikir itu keputusan terbaik untuk kita berdua. Aku pikir kamu akan lebih bahagia tanpaku. Aku pikir..." Ia menghentikan kalimatnya, menggeleng pelan. "Aku pikir banyak hal yang ternyata salah."
Jantung Nara berdegup lebih keras.
"Tidak ada satu hari pun selama lima tahun itu," lanjut Rian, suaranya sedikit retak, "yang aku lalui tanpa memikirkanmu."
Hujan terus mengetuk kaca. Aroma kopi memenuhi udara. Dan Nara — untuk pertama kalinya dalam lima tahun — tidak tahu apa yang harus ia katakan.
Bagaimana bab ini?
Beri rating untuk membantu pembaca lain
4.8
dari 2.341 rating